CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Senin, 28 September 2009

TakuT


Aku bukan tak mau bicara,
Tapi aku tak sanggup bicara..
Aku terlalu takut untuk bicara,
Aku takut menyakitinya.

Aku takut dia menangis karenaku
Aku pun takut kau bersedih melihatnya menangis

Aku bukan tak bisa bicara..
Tapi aku tak mampu bersuara
Aku terlalu khawatir hatiku akan terluka
Aku terlalu khawatir aku akan membuka lukaku lagi

Aku takut ia tahu apa yang ku rasakan
Aku pun takut kau kecewa atas keegoisanku

Aku bukan tak mau jujur
Tapi aku terlalu malu untuk jujur
Aku malu pada diriku yang malu
Aku malu pada hatiku yag rapuh

Aku takut ia tahu kalau aku malu
Aku pun takut kau tahu kalau aku malu padamu

Aku bukan takut akan cinta
Tapi aku takut cinta ini menyakitiku
Aku takut cinta ini melukaiku
Aku takut kau tahu, kalau aku tak bisa berhenti mencintamu

Mimpi Yang Terkurung


aku hanya ingin menjalani hidupku,
waktuku yang berharga,
semua yang kusukai tanpa penyesalan.

Tanpa banyak pikiran lagi di otak. Hanya melakukannya. Lebih banyak tersenyum.

Tak lagi tertunduk lesu. Bila kubertannya bisakah aku? Bagian lain diriku menjawab:

“itu semua terserah kamu”

Lalu otakku kembali memproses,
ah jawaban seperti ini sulit.
aku harus mengalahkan diriku sendiri?

aku punya banyak mimpi,
memang tak sejumlah bintang dilangit,
tapi ia setinggi angkasa

mampukah aku?
ah bahkan aku belum mencobanya
ada banyak keraguan yang berkecamuk

Tapi hatiku tak mau manyerah
tak mau aku yang di masa depan hanya menjadi begitu saja

kemalasan, putus asa, ketakutan
itu semua terkubur dalam jiwaku
menenggelamkan semangatku

“akankah hidupku berakhir begini?”

aku tak tahu,
tapi yang pasti aku tak mau semuanya berakhir dengan kekosongan
yang kutahu aku harus mulai melangkahkan kaki-ku

walau tujuannya tak jelas
tapi ku kan berjalan dengan yakin

Aku Bosan


Hei..
Lelah aku terus berlari..
Mengejar sesuatu tak pasti..
Kemanakah engkau pergi..

Belum puas kah kau bersembunyi..
Berharap aku terus mencari..

Duniaku begitu indah bersamamu..
Hatiku teramat bahagia disisimu..
Anganku selalu melayang mengelilingimu..
Dan impianku tertuju padamu..

Namun kini aku letih mengharapmu..
Hanya mampu bersandar di bahumu..
Kupercayakan padamu..
Jangan tinggalkan aku..

Bosan aku menipu diriku..
Hancur hatiku berkata benci..
Tak mampu ku katakan padamu..
Tak ingin kau pergi..

Kamis, 17 September 2009

Allah The Creator

How this big earth came to be,

And everything that we see,

Even things in outer space,

Came about by Allah's grace.

How people lived so long ago,

Lessons that we have to know,

And who does Allah love the best,

And why He puts us all to test.

How He makes the raindrops fall,

And what about the tree so tall,

What about the plants that grow,

And reasons for the wind to blow.

How about the oceans wide,

And different animals that we ride,

Not to mention mountains high,

And the magnificence of the sky.

Find out what we must not do,

Things that are bad for me and you,

Also things that are right,

And how we can all gain insight.

And the nature and the glory,

Unfolds like a beautiful story,

Of Almighty as He talks to you,

Conveying a message pure and true,

Read it up in the Qur`aan,

It will strengthen your Imaan.

Ya Allah, Kutuklah Aku, Ya Allah

Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku

Kutuklah aku menjadi air yang senantiasa mengalir

Kalaupun milyaran bebatuan menghadang

Aku terus mencari celah untuk terus mengalir padaMu

Jadikan saja aku angin, Ya Allah

Agar aku bisa menyerukan kebesaranMu ke berbagai penjuru

Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku

Kutuklah aku menjadi gunung-gunung yang

Senantiasa bergerak selayak awan di langit

Agar aku dapat menjelaskan keagunganMu

Knapa tak kau jadikan saja aku tanah

Dimana Rasulmu pernah menjejakkan sepasang

Telapak kaki telanjangnya

Biar kujaga dari apapun yang kan menghapusnya hingga memfosil

Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku

Menjadi matahari atau rembulan atau gemintang yang selalu patuh padaMu

Tanpa syarat, bukan manusia sepertiku

Yang bersujud saja kubutuhkan ribuan alasan

Aku iri Ya Allah, aku iri kepada tanah, dedaunan, air, angin, api

Segala yang kau ciptakan, sebegitu khusyuk mencintaimu – tanpa syarat

Bukan manusia sepertiku, yang bersujud saja kubutuhkan ribuan alasan

Ya Allah, kota tua ini sudah mengurungku pada kesibukan

Yang menjelma klakson-klakson pada mobil-mobil

Yang berebut jalan sebelum lampu di perempatan itu menyala merah

Seperti penguasa yang saling berebut kekuasaan

Gedung-gedung tinggi tak memberiku kesempatan menemuiMu

Waktu adalah milik perkantoran swasta, papan iklan, reklame, redaktur koran….

Hingga kulihat seorang pelacur di gang sana sedang mengetuk pintu kaca

Sebuah mobil berplat merah yang berparkir di tepi jalan

Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku

Kutuklah aku menjadi daun kembang kamboja

Yang tengah luruh di atas pekuburan

Agar aku dapat selalu ingat, sebelum jatuh ke atas tanah

Bahwa segala kesombongan telah terbungkam

Di balik nisan yang terpahatkan namanya

Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku

Kutuklah aku menjadi apa saja, asal jangan menjadi manusia

Rabu, 16 September 2009

Idul Fitri 1430 H

Manusia itu tempat berkumpulnya segala kealpaan dan kekhilafan, sehingga dia kadang mencari surga kemana-mana, padahal surga itu ada di dirinya sendiri, dia akan merasa yang paling tidak beruntung dari semuanya, sehingga dia melupakan semua yang dia miliki, orang-orang tercinta di sekitarnya, yang selalu bersedia membantu tanpa pamrih, serta segala keberuntungan yang dimilikinya, yang takkan pernah habis, asalkan dia tetap menyadari dan menyukuri segala yang dimilikinya…
Maka di hari yang fitri ini,
ketika beberapa saat yang lalu,
ketika riak-riak kehidupan dihadapi dengan hati suram,
ketika berbagai peristiwa melintas seringkali dihadapi dengan tak bijak…
sehingga menenggelamkan kalbu ke dalam lembah kesalahan dan kekhilafan…
ketika mata salah memandang,
ketika mulut seringkali salah dalam berucap,
ketika segala ucapan dan perilaku, semata hanya mengoyak sanubari, menabur luka tak terobati di hati siapapun…
ketika hati kerap salah menduga,
ketika terlupa diri ini tuk menggemakan kebesaran Tuhan,
ketika tak pernah lagi kedua tangan ini bersimpuh
memohon anugerah Nya sekaligus ampunan Nya,….
kembali karunia Nya menyirami kalbu yang menjelang tandus ini…
mengantarkan kesempatan, tuk merasakan kebahagiaan
melalui akal yang kembali jernih,
nurani yang kembali bersih,
dan warna hidup yang kembali putih,
serta perilaku yang kembali tulus….
ketika gema takbir memenuhi sanubari
kembali jiwa bersujud dalam kebahagiaan
kembali kesucian memenuhi kalbu…
kembali menyongsong iedul fitri…

IEDUL FITRI
1 SYAWAL 1430 H…

Nähe des Geliebten .... Nähe des Geliebten ....

Ich denke Dein, wenn mir der Sonne Schimmer
Vom Meere strahlt;
Ich denke dein, wenn sich des Mondes Flimmer
In Quellen malt.

Ich sehe dich, wenn auf dem fernen Wege
Der Staub sich hebt;
In tiefer Nacht, wenn auf dem schmalen Stege
Der Wandrer bebt.

Ich höre dich, wenn dort mit dumpfem Rauschen
Die Welle steigt.
Im stillen Haine geh ich oft zu lauschen,
Wenn alles schweigt.

Ich bin bei dir, du seist auch noch so ferne,
Du bist mir nah!
Die Sonne sinkt, bald leuchten mir die Sterne.
O wärst du da!